Di era modern, hampir semua mobil yang keluar dari pabrit telak
dilengkapi dengan fitur kemanan berupa kantung udara atau Airbag.
Airbag
berfungsi untuk melindungi daerah kepala, leher, dan dada pengemudi
maupun penumpang. Secara prinsip ketiganya memiliki mekanisme kerja yang
sama.
Sensor
airbag pada mobil akan mengirimkan sinyal ke modul kontrol begitu mobil
mengalami tabrakan atau membentur keras, dan airbag mengembang.
Modul
kontrol tersebut berupa komputer kecil yang berfungsi untuk menerima
data benturan dari sensor. Selanjutnya modul mengirimkan sinyal ke
pemicu atau igniter perangkat listrik yang berupa kawat tipis. Ketika
arus listrik mengalir maka kawat akan panas dan membakar propelan
airbag yang terdiri dari zat azida natrium. Pembakaran zat itu
menghasilkan gas nitrogen yang memicu airbag mengembang dan melindungi
pengemudi atau penumpang mobil. Gas nitrogen akan keluar dan airbag
mengempis kembali sesaat setelah kepala pengemudi atau penumpang
membentur airbag.
Akibatnya, kantung udara itu tak akan menjepit kepala atau badan pengemudi atau penumpang. Jadi penumpang tetap aman. Ada
beberapa jenis sensor berdasar letak penempatannya. Pada mobil model
lama, penempatan di bagian depan mobil sedangkan pada model yang lebih
baru, sensor langsung terpasang pada modul airbag.
Selain itu, ada
juga sensor yang ditempatkan di pintu untuk mengaktifkan airbag
samping. Airbag yang dipasang di dashboard atau di lingkar kemudi hanya
akan mengembang jika terjadi tabrakan depan atau di wilayah 30 derajat
dari arah depan kendaraan. Sementara
airbag yang dipasang di samping akan aktif ketika mobil mengalami
benturan pada sudut tertentu. Airbag yang dipasang di sebelah kiri tak
akan mengembang ketika bagian kanan mobil yang mengalami benturan keras.
Begitu pun sebaliknya. Cara kerja airbag di bagian samping berbeda
dengan airbag yang ditempatkan di depan.
Airbag di bagian ini
menggunakan tabung gas argon terkompresi dengan tingkat tekanan berkisar
3.000-4.000 psi. Pada saat mobil mengalami benturan gas tersebut akan
terlepas dan berfungsi memicu airbag mengembang. Seperti halnya
nitrogen, gas argon ini tak berbahaya.
Cara Kerja Airbag
Setiap mobil baru yang beredar, pasti dilengkapi fitur keselamatan, dan salah satunya airbag. Biasanya, komponen keselamatan ini berada di tengah setir atau dasbor penumpang depan, dan terdapat tulisan SRS airbag.SRS merupakan
singkatan dari Supplementary Restraint System. Artinya, fitur ini
bersifat pendukung dan bukan bersifat utama untuk menyelamatkan
penumpang saat terjadi kecelakaan.
Saat ini, fitur airbag sudah menjadi standar setiap produk Toyota, bahkan termasuk produk entry segment seperti Agya dan Calya.
Proses airbag sangat cepat saat mengembang. Ketika sebuah
igniter membakar senyawa Natrium Azida (NaN3), yang kemudian bereaksi
dengan Kalium Nitrat (KNO3) hingga menjadi nitrogen panas yang
mengembangkan kantung udara. Tetapi, proses itu baru akan terjadi jika
ECU dari airbag mengirimkan perintah.ECU dari airbag baru akan memerintahkan proses di atas, jika sensor airbag yang diletakkan beberapa titik, menerima gaya dalam jumlah besaran tertentu yang cukup besar.Banyak faktor yang menentukan agar sensor membaca gaya yang cukup, dan membuat airbag
mengembang, misalnya seperti benturan frontal dengan kecepatan minimal
20-30 km/jam, jarak pembacaan sensor sekitar 15 derajat dari garis lurus
ke depan.
Perlu dipehatikan ketika airbag sudah mengembang tidak bisa
dipakai ulang melainkan harus diganti baru. Ada baiknya perbaikan total
kendaraan yang mengalami kecelakaan termasuk pergantian airbag yang baru.
Side Airbag
Audi merilis perintah recall (penarikan kembali) untuk model A6 dan A7 karena terindikasi rusak di bagian airbag.
Untuk mobil yang memiliki side airbag, maka terdapat sensor pada pilar B yang akan mengembang ketika terjadi tabrakan dari samping. Pada side airbag, kantung udara yang mengembang bisa dari door trim atau pilar rangka mobil.
Kecepatan mengembang side airbag sejauh ini paling cepat dibandingkan dengan posisi airbag
lainnya. hal tersebut, karena jarak antara penumpang dan sisi samping
dalam mobil yang lebih kecil, sehingga kecepatan mengembang harus lebih
cepat.
Biasanya, side airbag dipadukan dengan curtain airbag. Jenis airbag
ini berguna untuk melindungi kepala penumpang dari benturan saat
tabrakan samping. Posisi kantung udara berada di atas jendela samping,
sehingga ketika mobil berguling, kepala penumpang atau pun pengemudi
tidak cedera parah.
Tidak hanya untuk mobil dua baris, curtain airbag juga melindungi penumpang baris ketiga.
Selain dual airbag, side airbag dan curtain airbag, ada juga knee airbag yang terpasang di bawah dasbor tepat di depan lutut. Kantung udara pada knee airbag tersebut mengisi ruang antara dasbor dan kaki.
Bukan hanya melindungi lutut, airbag ini juga berfungsi
untuk mengurangi tekanan pergerakan tulang pinggul agar tidak cedera
parah ketika mengalami tabrak depan dengan kecepatan tinggi. Untuk
sensornya, umumnya menjadi satu dengan dual airbag yaitu berada pada setir dan dasbor atas.
Sistem Kerja Airbag atau Cara kerja airbag
Sirkuit utama pada unit airbag bertugas untuk mendeteksi serta
menentukan besarnya gaya benturan, jika memang diperlukan akan memicu
inflator airbag untuk mengembangkan kantung udara. Jika
tegangan baterai terlalu lemah karena listrik dari baterai/accu
terputus karena tabrakan keras, maka voltage regulator dan power circuit
cadangan akan menjaga agar tegangan untuk memicu inflator tetap
konstant.
SRS
dilengkapi dengan sirkuit penambah voltase (DC-DC converter) dalam
sensor airbag tengah seandainya terjadi penurunan sumber tegangan dari
accu. Pada saat voltase baterai turun, sirkuit penambah voltage (DC-DC
converter) berfungsi untuk menambah voltase agar voltase yang ke SRS
normal. Apa yang membuat Airbag Menggelembung
Sistem pengembangan kantung udara pada airbag mereaksikan natrium azida dengan kalium nitrat untuk menghasilkan gas Nitrogen dan ledakan nitrogen mengembangkan kantung udara, kalium nitrat merupakan sumber alami mineral nitrogen. Syarat agar unit SRS airbag bisa bekerja adalah:
1. Sensor benturan depan harus mengaktifkan dan mengirim sinyal elektrik ke mikroprocessor
2. Mikroprocessor harus dapat memproses sinyal benturan dari sensor
3. Inflator airbag yang menerima sinyal harus memicu dan mengembangkan airbag tersebut.
Pada
contoh airbag mengembang yang ditunjukana pada gambar diatas, yang
memicu airbag mengembang adalah terjadi benturan yang keras pada bagian
bawah mesin.
SRS Airbag
Dalam
sistem kendaraan dikenal dengan dua sistem keamanan, sistem keamanan
aktif dan sistem keamanan pasif. Sistem keamanan aktif adalah sistem
keamanan untuk mencegah terjadinya kecelakaan (cara preventif), sistem
ini berfungsi menstabilkan laju kendaraan dalam berbagai kondisi bahkan
pada saat kondisi kendaraan kritis. Sistem tersebut merupakan
pengembangan sistem rem yang dikontrol secara elektronik, contoh sistem
tersebut diantaranya : Sistem rem ABS, TCS dan ESP. Sistem keamanan
pasif adalah satu
sistem untuk melindungi penumpang saat terjadi tabrakan atau benturan.
Sistem penunjang ini dapat berdiri sendiri, artinya bahwa sistem
tersebut tidak melekat pada sistem yang harus terpasang pada kendaraan
atau boleh dibilang sistem tersebut merupakan sistem yang dapat
ditambahkan sebagai salah satu sistem pada kendaraan.
Gambar 1. Area deformasi dan keamanan
Pada struktur kendaraan dikontruksi dalam 2 area, area yang mudah terjadi deformasi berfungsi
menyerap dan menghilangkan kekuatan akibat benturan melalui deformasi
pada bagian depan dan atau bagian belakang saat terjadi tabrakan. Area
berikutnya merupakan area yang sulit terjadi deformasi dinamakan Area
Keamanan/ Keselamatan, dalam area ini diperlukan kabin yang kuat guna
meminimalkan deformasi kabin, sehingga penumpang dalam kondisi aman.
Untuk menghindari benturan antara penumpang dan kabin atau interior
kendaraan sistem SRS Airbag mempunyai peranan penting dalam area ini.
(Supplemental Restrain System Airbag) dikembangkan sebagai teknologi keselamatan pasif yang melengkapi sabuk pengaman. Alat ini sebagai sistem penahan tambahan pada saat terjadi benturan dengan sabuk pengaman sebagai alat utama yang membantu melindungi penumpang saat terjadi kecelakaan.
2. Komponen SRS Airbag
Komponen ini dikembangkan dan diadopsi dengan berbagai jenis yaitu, Airbag depan (Front Airbag), Airbag Samping (Side Airbag), dan Airbag Tirai.
Airbag depan terdiri dari driver Airbag dan Passenger Airbag, berfungsi melindungi pengemudi dan penumpang depan saat terjadi benturan/tabrakan dari arah depan. Driver Airbag dipasang di tengah bantalan roda kemudi dan Passenger Airbag dipasang pada dasbor di depan tempat duduk penumpang depan.
Airbag samping (Side Airbag) berada pada samping pengemudi dan penumpang baik depan dan belakang berfungsi untuk membantu mengurangi resiko cedera akibat benturan
antara orang di dalam dengan pintu kendaraan apabila terjadi tabrakan
dari samping kendaraan. Airbag Tirai berfungsi saat kendaraan terguling (rolling), dapat mengurangi resiko cidera saat terjadi benturan akibat kendaraan terguloing. Dengan peletakan pada tirai kendaraan (samping atas penumpang).
Pastilah
tidak semua mobil/kendaraan mempunyai sistem airbag ini, ada yang
terpasang sebagian dan ada yang komplit. Ada kendaraan tertentu yang
semua variannya terdapat system ini (merupakan system yang wajib ada),
ada pula yang hanya varian tertentu yang terdapat system ini, yang mana
semuanya disesuaikan dengan kondisi dan situasi dimana kendaraan
tersebut di dijual (digunakan).
Saat terjadi kecelakaan, besarnya energi benturan akan diterima oleh sensor depan airbag (crash sensor) yang diletakkan di depan mobil dan diteruskan ke ACU (Airbag Control Unit), ACU akan mengkalkulasi dan membandingkan dengan safing sensor yang terletak di dalam ACU, bila hasil perbandingan crash sensor dan safing sensor menyatakan airbag harus dikembangkan. Maka ACU akan mengaktifkan Inflator yang didalamnya terdapat initiator yang akan membakar Propellant Grain
sehingga menghasilkan gas dan mengembangkan airbag, kemudian airbag
akan mengempis. Peristiwa tersebut memakan waktu kira-kira 0,2 detik.
Gambar 4. Urutan Pengembangan SRS Airbag
SRS Airbag
mempunyai syarat mengembang bila tingkat benturan di atas ambang yang
telah ditentukan dengan kecepatan mobil minimal 25 km/jam dan saat
menabrak secara frontal terhadap penghalang permanen yang statis atau objek yang dapat bergerak saat tertabrak (misal mobil yang sedang parkir). SRS Airbag juga akan mengembang bila terjadi benturan serius pada bagian bawah kendaraan.
Airbag
depan tidak akan mengembang apabila terjadi benturan atau kondisi
seperti benturan dari arah samping, kendaraan terguling, menabrak objek
yang lebih tinggi atau tidak mengenai sensor depan, menabrak tiang tepat
di tengah (kondisi tertentu), benturan dari belakang, dan benturan
menyudut.
Alat ini dapat memberikan efek samping pada saat SRS Airbag
mengembang dengan cepat (kecepatan mengembang di atas 100 km/jam), efek
samping itu adalah penumpang akan mengalami memar, luka lecet, cedera.
Untuk menghindari hal tersebut penumpang harus pada duduk yang normal
dan menggunakan sabuk pengaman. Perhatikan pada saat membawa balita atau
anak-anak ketika mengendarai mobil yang dilengkapi SRS Airbag,
alangkah baiknya ditempatkan di kursi belakang. Jadi jangan menempatkan
balita atau anak-anak di tempat duduk depan karena dapat membahayakan
mereka pada saat SRS Airbag mengembang.
4. Diagnosa Sistem
SRS Airbag dilengkapi dengan sistem yang dapat mendeteksi kerusakan yang terjadi didalam sistem SRS Airbag. Jika lampu peringatan SRS Airbag yang terdapat pada dashboard menyala saat mesin dinyalakan, menandakan terjadi kerusakan dalam sistem dan SRS Airbag tidak akan aktif bila terjadi benturan (tabrakan).
Gambar 5. Lampu SRS Airbag pada dasboard
Kerusakan yang terjadi dalam sistem akan tersimpan didalam memori kontol unit SRS Airbag, kerusakan yang terdeteksi merupakan kerusakan yang terjadi pada sistem elektroniknya bisa
berupa sensor, kabel penghubung, dan aktuator. Sambungan putus atau
hubung singkat juga bisa terdeteksi kerusakan, terakhir kerusakan juga
bisa terjadi pada kontrol unitnya sendiri.
Gambar 6. Diagnosa kerusakan dengan scantool.
Informasi kerusakan sistem SRS Airbag dapat di ketahui dengan 2 cara : pertama dengan menggunakan scantool (alat bantu diagnosa kendaraan) cara ini selain mengetahui kerusakan juga dapat mengetahui sistem kira-kira bisa bekerja dengan baik atau tidak dengan melihat menu current data. Kedua dengan menghitung kedipan pada lampu SRS Airbag, prosedur menampilkan kedipan dengan cara menghubungkan (jumper) terminal pada DLC, kode kerusakan (kedipan) dapat diketahui pada buku manual service kendaraan.
Gambar 7. Posisi jumper pada DLC Toyota.
Kode
kedipan dinyatakan dalam angka dengan nyala lampu (lama tanda puluhan
dan pendek tanda satuan), bila ada kerusakan lebih dari satu maka akan
dimunculkan secara beriringan mulai dari kode kerusakan yang kecil.
Contoh pada gambar 9 terhitung kode no 31, dalam buku manual perbaikan
toyota terbaca : Center airbag sensor assemblyyang artinya sensor airbag bagian tengah rusak. Untuk lebih lengkapnya bisa melihat pada buku manual perbaikan.
Gambar 8. Cara membaca kode kedipan.
5. Kesimpulan
SRS Airbag merupakan
sistem keamanan pasif yang berfungsi sebagai pelengkap dari sistem
sabuk keselamatan. Saat terjadi tabrakan tubuh akan ditahan oleh sistem
sabuk keselamatan, dan airbag akan mengurangi benturan antara kepala
dengan kabin kendaraan. Sistem airbag bekerja saat menabrak secara
frontal dengan kecepatan minimal kendaraan 25 km/jam. Dalam sistem SRS Airbag
dilengkapi suatu sistem yang dapat mendeteksi kerusakan yang terjadi
pada sistem tersebut. Untuk mengetahui kerusakan yang terjadi dapat
dideteksi dengan scantool atau dengan kode kedipan. Dewasa ini produsen
kendaraan menawarkan sistem SRSairbag sebagai teknologi keselamatan penumpang yang teritegrasi dalam sistem kendaraan,