Akhlak kepada Allah
Di antara salah satu misi dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang
luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273.
Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad.)
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan
“menyempurnakan akhlak”; dan bukan mengajarkan akhlak dari nol setelah
sebelumnya tidak tahu sama sekali. Hal ini karena dulu masyarakat
musyrik jahiliyyah telah memiliki sebagian bentuk akhlak yang luhur
sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya
adalah menepati janji; memuliakan tamu; dan suka memberi makan orang
yang membutuhkan. Sehingga akhlak-akhlak yang baik itu dipertahankan,
sedangkan akhlak mereka yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, itulah
yang menjadi sasaran perbaikan.
Memprioritaskan akhlak kepada Allah Ta’ala
Kalau kita berbicara dan menyebutkan tentang akhlak, yang
terlintas dalam benak dan bayangan kita adalah bagaimanakah kita
bersikap baik kepada sesama manusia, misalnya kepada orang tua, kepada
guru, kepada tamu, atau yang lainnya. Jarang atau mungkin tidak pernah
terlintas dalam benak kita adanya akhlak yang lebih agung daripada itu
semua, yaitu akhlak kita kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ
أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا
تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan
sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya
sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah
kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 23)
Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk
menjaga akhlak kepada kedua orang tua. Kedua orang tua kita adalah
manusia yang paling berhak untuk mendapatkan sikap dan perlakuan yang
baik dari kita.
Namun, sebelum Allah Ta’ala menyebutkan perintah berbuat
baik alias berakhlak kepada orang tua, Allah Ta’ala terlebih dahulu
menyebutkan hak-Nya, yaitu perintah untuk beribadah hanya kepada Allah
Ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Hal ini
mengisyaratkan, akhlak kepada Allah Ta’ala, yaitu tauhid, adalah hak
yang lebih agung dan lebih harus diperhatikan sebelum hak kedua orang
tua.
Demikian juga dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ
وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak,
karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat
dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba
sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa’ [4]: 36)
Dalam ayat di atas, sebelum Allah Ta’ala memerintahkan
manusia untuk berakhlak kepada sesama manusia, yaitu sembilan golongan
yang Allah sebutkan (orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin,
tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan
budak), Allah Ta’ala perintahkan untuk berakhlak terlebih dahulu kepada
Allah Ta’ala, yaitu mentauhidkan-Nya dalam ibadah.
Hal ini menunjukkan, tanpa akhlak kepada Allah Ta’ala,
semua itu hanyalah sia-sia belaka dan tidak ada nilainya di sisi Allah
Ta’ala
Sebaik apa pun akhlak orang kafir kepada sesama manusia,
mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah Ta’ala
Dua ayat di atas menunjukkan bahwa akhlak kepada Allah
Ta’ala adalah yang menjadi pokok, sedangkan akhlak kepada sesama manusia
atau sesama makhluk secara umum itu sekedar mengikuti setelah seseorang
memiliki akhlak kepada Allah Ta’ala.
Sehingga meskipun manusia itu memiliki akhlak yang baik
kepada sesama manusia, misalnya jujur, tidak pernah mengganggu dan
menyakiti orang lain, tidak pernah korupsi, amanah jika diberi jabatan,
dan lain-lain, jika mereka tidak beriman kepada Allah Ta’ala,
akhlak-akhlak yang luhur kepada sesama manusia itu tidak ada nilainya
sama sekali.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyebut orang-orang
kafir sebagai seburuk-buruk makhluk, tanpa melihat sebagus dan seluhur
apa pun akhlak dan perbuatan mereka terhadap sesama manusia. Allah
Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ
شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli
Kitab dan orang-orang yang musyrik, (akan masuk) ke neraka jahannam,
mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS.
Al-Bayyinah [98]: 6)
Bukti lainnya bahwa akhlak kepada sesama makhluk itu
tidak ada nilainya selama manusia tidak berakhlak kepada Allah Ta’ala
adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi kaum
musyrikin, sampai mereka mau berakhlak kepada Allah Ta’ala dengan
mentauhidkan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai
mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah
melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Bukhari
no. 25 dan Muslim no. 138)
Sebagian akhlak mulia kepada sesama manusia yang
kaum musyrikin miliki itu tidak ada nilainya, sampai mereka mau beriman
kepada Allah Ta’ala dan mentauhidkan Allah Ta’ala dalam seluruh
aktivitas peribadatan mereka. Sebagian orang yang terkena penyakit
liberalisme mengatakan, “Manusia tidak perlu mengikatkan diri dalam
agama formal tertentu. Yang penting, mereka punya akhlak sosial yang
luhur: jujur, tidak berkata dusta, saling menyayangi, tidak membunuh,
tidak mencuri harta orang lain, suka membantu manusia yang membutuhkan
pertolongan, dan seterusnya. Tidak mungkin Allah tega memasukkan
hamba-Nya ke dalam neraka jika hamba-Nya itu telah memiliki
akhlak-akhlak yang luhur tersebut.” Inilah syubhat yang ditebarkan oleh
orang-orang liberal. Mereka anggap itu adalah pemikiran modern, padahal
pemikiran itu adalah pemikiran kuno, pemikiran orang musyrikin sejak
zaman dahulu dan telah Allah Ta’ala abadikan dalam Al-Qur’an.
Allah Ta’ala mengatakan,
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ
لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman
orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram itu kamu
samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,
serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. At-Taubah [9]: 19)
Pembahasan di atas bukanlah berarti bahwa
akhlak kepada sesama manusia itu tidak penting. Bukan maksudnya
demikian. Bahkan, berkahlak kepada manusia adalah konsekuensi iman
kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, dalam banyak hadits, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan beberapa perkara akhlak dengan
keimanan kepada Allah Ta’ala dan hari akhir.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ
الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah
dan hari akhir, hendaklah dia berkata-kata yang baik atau diam.
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia
tidak menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari no. 6475 dan
Muslim no. 47. Lafadz hadits ini miliak Bukhari.)
Hadits di atas menunjukkan bahwa di
antara konsekuensi kesempuranaan iman kepada Allah Ta’ala adalah
memiliki akhlak yang baik kepada sesama manusia.
Oleh karena itu, dalam hadits yang lain
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna
imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi no. 1162.
Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 284.)
Semoga tulisan ini dapat menjadi
pengingat bagi penulis sendiri dan kaum muslimin untuk memperbaiki
akhlak kepada Allah Ta’ala, kemudian memperbaiki akhlaknya kepada sesama
manusia dan sesama makhluk secara umum.
