Korek harian
yang pertama tama akan kita sebutkan beberapa hal yang akan kita bahas dalam pembuatan mesin balap Standar Korek atau korek harian dalam istilah motoprix MP5. yang tentunya kita akan membuat yang paling sederhana dan murah meriah agar tidak membuat kantong kempes. Hal Hal yang akan kita pelajari yaitu.
1. pengetahuan tentang Isi silinder /cc/displacemen
untuk mengetahui isi silinder tentunya kita harus mengetahui langkah torak/piston dan diameter piston motor yang kita buat lihat postingan kita sebelumnya,
contoh
motor yang akan di pakai adalah honda blade 110
motor ini mempunyai langkah piston 55,5 mm yang dimaksud dengan langkah piston adalah perjalanan piston dari titik mati bawah ( TMB ) sampai dengan Titik mati Atas ( TMA) ukur menggunakan sigmat atau jika mau mudah kita sudah sediakan postingan tentang seluruh langkah motor setandar . silahkan di cari di postingan sebelumnya.
berikutnya motor honda blade ini mempunyai diameter piston 50mm, diameter adalah garis tengah piston, ukur menggunakan sigmat, atau jika mau mudah juga bisa lihat postingan kita sebelumnya di daftar diameter piston
maka setelah kita mengetahui langkah dan diameter piston kita bisa tentukan cc standar motor ini, dengan rumus
3,14 X diameter pistonXdiameter piston X langkah
---------------------------------------------------
4000
berarti 3,14 X 50 X 50 X 55,5
--------------------------------
4000
435,675
--------
4000
berarti cc nya adalah 108,9cc
nah....bagaimana kalau kita ingin mengejar batasan kapasitas isi silinder mendekati 130 cc agar bisa main di mp6
kita gunakan piston dari motor lain saja biar murah, kita coba pakai piston milik kawasaki kaze yang oversize 100 dengan diameter 54mm
jadi berapa cc nya..
3,14 X 54 X 54 X 55,5
-------------------------
4000
jadi isi silindernya adalah 127 cc
berikut ini gambaran sebagian kecil bentuk piston yang kita gunakan untuk honda blade 110 ( motor yang menggunakan bentuk ruang bakar Setengah bola / hemi sperical)

sebenarnya tidaklah wajib membentuk dome piston, tujuannya adalah membuat rasio kompresi yang tepat sesuai bahan bakar, bahkan piston datar juga bagus asalkan sesuai dengan rasio kompresi yang di inginkan, kedepan akan saya bahas tentang rasio kompresi,
pada gambar diatas dapat kita ketahui bahwa kita menggunakan piston dari kawasaki kaze ( gambar A) dan menggunakan piston mentah katakan produksi FIM (gambar B), kedua duanya dapat kita gunakan untuk membuat rasio kompresi yang berkisar 10 s/d 11,5 :1 dengan bahan bakar Pertamax plus,
cara buatnya
1. pilih piston yang akan kita gunakan.
2. Reamer kan ( lemer bahasa jambi) ke tukang reamer dengan piston yang sudah di pilih.
3. setelah selesai pasang dulu piston ke stang seher dan pasang blok silinder dalam posisi tanpa perpak lalu tekan blok silindernya untuk mengukur batas piston dengan bibir blok, posisikan piston di puncak titik mati atas lalu garis menggunakan pisau cutter sejajar dengan bibir blok. lalu lepaskan blok dan pistonnya.
4. Piston yang sudah ada tanda garis kemudian di bubut sesuaikan dengan gambar di atas, dan sekalian di coak.
5. ukur dan hitung rasio kompresi sampai ketemu angka maksimal 11,5 :1 agar aman menggunakan Pertamax Plus
2. Pengetahuan tentang Rasio Kompresi
sebenarnya tujuan membuat piston jenong adalah agar di dapat rasio kompresi yang di inginkan oleh mekanik yang tentunya mendukung performa atau tenaga motor, logikanya adalah bahwa kompresi makin besar maka tenaga yang di hasilkan makin besar ini di sebabkan karena rasio kompresi menentukan panas ruang bakar, semakin besar rasio kompresi maka semakin besar panas yang di hasilkan ( pembuktian dengan rumus akan kita tulis yang akan datang) ingatt!!! mesin adalah suatu alat pengubah energi panas menjadi energi gerak.
Rasio Kompresi adalah perbandingan antara isi silinder di tambah dengan isi ruang bakar di bagi dengan isi ruang bakar.
untuk menentukan isi silinder pada pembahasan yang lalu sudah kita pelajari, bagaimana dengan menentukan isi ruang bakar..? menentukan isi ruang bakar agak sulit jika menggunakan rumus, ini di sebabkan karena bentuk ruang bakar tidak beraturan yang di pengaruhi oleh bentuk muka piston dan mekanisme klep. Maka untuk membantu kita, kita butuh alat yang biasa di sebut dengan BURET
Kita kembali lagi, oleh karena isi ruang bakar dapat menentukan rasio kompresi, maka para mekanik mengatur isi ruang bakar ini dengan membuat Muka piston lebih jenong atau datar agar di dapat isi ruang bakar yang di inginkan.
Contoh, pada suatu pengukuran isi ruang bakar menggunakan buret ternyata di dapat 12cc sedangkan isi silinder seperti yang telah kita hitung pada pembahasan yang lalu adalah 127 cc maka dapat di ketahui rasio kompresinya adalah ;
RK = 127 + 12 / 12
Jadi RK = 11,4 : 1
3. pengetahuan tentang durasi noken as
yang perlu kita ketahui adalah tujuan membuat atau memodifikasi noken as adalah :
1. membuat durasi lebih lama.
noken as adalah komponen yang mengatur buka dan tutup klep, bahwa bahan bakar yang masuk ke ruang bakar akan melewati klep, ibarat pintu rumah yang terbuka dan tertutup agar orang banyak mengantri masuk ke rumah oleh karena itu Jika kita ingin memasukkkan orang dalam jumlah lebih banyak tentu waktu buka pintu rumahnya kita buka lebih lama dari biasanya. untuk membuat performa mesin lebih besar powernya maka perlu memperlama waktu buka klep ( DURASI ADALAH LAMANYA WAKTU KLEP TERBUKA )
2. Membuat angkatan Klep ( lift klep ) lebih tinggi.
tujuan berikutnya dalam memodifikasi noken as adalah membuat angkatan klep lebih tinggi dari standarnya dengan harapan bahan bakar yang masuk maupun yang keluar akan lebih banyak.
Dengan cara ini maka bahan bakar akan lebih banyak yang masuk ke ruang bakar karena kita sudah membuat pintu terbuka lebih lama dan terbuka lebih lebar......

sebagai mekanik balap kita harus mengetahui kerja mesin, kita cukup melihat gigi noken as / kem atau sering juga di sebut gigi temeng depan.. dalam hal ini kita dapat mengetahui posisi dimanakah klep terbuka atau tertutup dan bahkan mengetaui dimanakah posisi angkatan klep tertinggi.. berikut gambarnya...
Banyak diantara mekanik pemula yang tidak menyadari bahwa setelah membuat atau memodifikasi noken as yang berarti menaikan tinggi angkatan klep, efek yang di timbulkan adalah terjadi penambahan gerak antara ujung bos klep dengan tatakan dasar topi klep dimana kuku klep berada sehingga pada saat terjadi puncak angkatan klep, maka topi klep akan menekan bos klep yang terjadi adalah ;
1. karet sil klep pecah di tandai dengan keluarnya asap putig pada motor balap kita
2. mentok yang berlebihan menimbulkan noken as tidak bisa berputar ( lift extreme)
3. noken as akan cepat habis bubungannya karena terjadi penekanan yang luar biasa
4. motor balap menjadi berat tarikan atasnya karena ada beban putar yang berlebihan.
lalu bagaimana caranya...?
sebagai mekanik balap yang cerdas maka kita wajib mengetahui dan sadar akan apa yang kita modifikasi..bagaimana rumusnya....?
S = R + 2
S = jarak bos klep setelah di pasang karet sil klep dengan topi klep setelah terpasang kuku klep
R= tinggi Angkatan klep / lift klep
sedangkan R itu sendiri adalah ( tinggi bubungan klep di kurangi lingkar pinggang di kalikan rasio roker arm / R = x-y X RRA )
contoh mudah jika kita memodifikasi noken as jupiter sehinnga di dapat :
Tinggi Bubungan kem 24
Diameter lingkar pinggang 17
Rasio Roker Arm jupiter standar 1: 1,25
maka
S = ( 24-17) X 1.25 + 2
S = 7X1.25 + 2
S = 10.75
Maka jarak antar bos klep dan topi klep adalah 10,75mm
pengukuran durasi cam:
- seat to seat (STS)
- Inggris
- Jepang
Dasar pehitungan durasi camshaft dimulai ketika kepala klep terangkat dan diakhiri saat klep tertutup dengan sempurna, itulah 1 periode kerja klep. Alat yang digunakan untuk mengukur pergerakan klep tersebut adalah dial gauge. Alat ini dipasang di lubang pemeriksaan celah klep dan tepat diujung kaki klep. Kita juga memerlukan busur derajat untuk mengetahui berapa derajat posisi putaran mesin yang dipasang pada poros kruk as.
Berikut model perumusan perhitungan durasi cam:
- Untuk STS, penghitungannya dimulai saat klep terbuka 0,02 mm sampai 0,02 mm sebelum klep tertutup.
- Teknik Inggris yang mulai ukurannya dari 1,25 mm (klep terbuka) dan selesai 1,25 mm sebelum klep tertutup.
- Teknik Jepang pencatatannya diawalai setelah klep baru menganga 1 mm dan berakhir 1 mm sebelum klep tertutup.
biasanya saya menggunakan teknik jepang. Yaitu sebagai berikut :Misalnya 1 putaran mesin adalah 360°, setelah klep in terangkat 1 mm angka di busur derajatnya 20º sebelum TMA (titik mati atas).
Sedangkan pada waktu 1 mm sebelum klep tertutup, busur derajatnya mengarah ke sudut 40º setelah TMB (titik mati bawah). Dari data tersebut diatas, gubakan rumus nilai sebelum TMA (A) + 180º (TMA ke TMB) + nilai setelah TMB (B) yang nanti hasilnya adalah 240º.
Itulah hasil untuk perhitungan dari klep in, Sedangkan perhitungan klep ex begini perhitungannya. Misal klep terbuka 40º sebelum TMB dan 40º setelah TMA (dasar perhitungannya tetap setelah klep terbuka 1 mm dan berakhir pada 1 mm sebelum tertutup).
Dengan rumus nilai sebelum TMB (C) + 180º (TMB ke TMA) + nilai setelah TMA (D), hasilnya 260º. Setelah didapat nilai durasi klep in dan ex, Dan hasil dari perhitungan in dan ex diperoleh hasil 250º. Ini dari = 240º+260º/: 2 = 250º.
Begitulah cara mengukur durasi cam untuk korek motor anda.
4. Bore x Stroke Penentu Karakter Mesin
begini penjelasannya ;
Stroke
, disebut langkah atau gerakan naik turun piston
dari TMA ( Titik Mati Atas ) sampai TMB ( Titik Mati Bawah ) , atau 180 derajat
putaran as kruk .
Bore , yakni diameter piston .
Contoh pada brosur sepeda motor terdapat tulisan
bore
x stroke : 50 x 55 , hal tersebut berarti diameter
( bore ) piston motor tersebut adalah
50mm dan langkah ( stroke ) adalah mm
. Gitu . . .
Nah , dari rasio antara diameter ( bore
) dan langkah ( stroke ) ,
ketahuan karakter mesin . Yakni ;
Oversquare , jika bore dibagi stroke angkanya lebih dari satu
Contoh ; Sepeda Motor dengan bore 63,5 dan stroke 50 , maka 63,5 : 50 = 1,27
Karakteristik dari
1.oversquare yakni power lebih terasa pada RPM menengah keatas
2.Undersquare , jika bore dibagi stroke kurang dari satu
Contoh ; Sepeda Motor dengan ukuran bore 50 dan stroke 55 , maka 50 : 55 = 0,90
Karakteristikundersquare yakni power terbaik berada pada RPM bawah hingga
menengah
3.Square
, jika ukuran bore
dan stroke sama ,
karakteristiknya power yang stabil dari RPM bawah hingga RPM atas .
5. MEMAJUKAN PENGAPIAN MOTOR
tulisan ini tidak akan berguna jika anda mampu membeli CDI Racing atau malah CDI Programable karena pada cdi Racing derajat pengapian sudah di atur sedemikian rupa sehingga otomatis derajatnya makin maju ( advance )
Sebelum kita membahas bagaimana cara memajukan pengapian terlebih dahulu kita mengetahui maksud dari memajukan pengapian itu sendiri yaitu untuk mendapatkan derajat pengapian yang lebih maju dari cdi standar dan agar mampu memantik pembakaran yang sempurna akibat dari rasio kompresi tinggi yang di barengi dengan bahan bakar dengan oktan lebih tinggi, ada beberapa cara memajukan pengapian ini berlaku untuk CDI standar bawaan motor (jika anda menggunakan CDI Racing maka tidak perlu repot )
1. membelah spi magnit, agar rotor magnit bergerak maju (berlawanan arah jarum jam jika kita berada di sebelah kiri motor )bagian yang di belah adalah hanya bagian yang tersentuh magnit bukan yang tersentuh as kruk, agar posisi spi tetap mantap, belah separo pada bagian yang berada pada poisisi sebelah tangan kanan kita dan rapikan, lalu pasang magnit maka ketika terpasang terasa oblak, kemudian magnit geserkan ke kiri atau berlawanan arah jarum jam sehingga nok pulser lebih cepat menyentuh pulser. bereeeesss... pergeseran ini bisa mencapai 5 derajat.
tarikan awal lebih mantap..
2. Menggeser nok pulser.
dengan cara menambah nok pulser bagian kiri atau depan kira kira sepanjang 5.mm dan mengurangi bagian sebelah kanan atau belakang kita sepanjang juga 5.mm sehingga total panjang nok pulser tetap, akan tetapi nok lebih cepat bertemu pulser 5mm lebih dahulu dari pada yang standarntya.

3. menggeser dudukan pulser.
caranya dengan memanjangkan lubang dudukan baut nok pulser agar pulser bisa lebih cepat bertemu dengan nok pulser.
Cara Membuat Pengapian Total Loss
Diperkenalkan oleh Suzuki Shogun 125 dengan sepeda motor menggunakan sistem pengapian DC. Dengan sistem baru dimana arus listrik disuplay dari aki. Walaupun sepul mati atau gak ada sepul sekalian, mesin masih bisa jalan asal setrum dari aki masih bisa mensuplay CDI. Karena hal ini fungsi dari sepul dan magnet dihilangkan, sehingga kita dapat membuang sepul dan magnetnya, yang otomatis putaran mesin jadi lebih enteng.
Dengan melepas magnetnya saja bisa disebut pengapian total loss. Itu pada tahap satu, total loss dapat juga dengan melepas sepul dahulu. Ini terjadi di motor Mio dan Jupiter. Melepaskan magnet jelas lebih ringan jika dilihat dari bobotnya, tetapi juga karena hilangnya daya tarik menarik antara lempengan spul dengan magnet. Caranya cukup mudah hanya mencukil lempengan magnet dari mangkok magnetnya dengan pahat atau obeng min yang kokoh, tetapi tetap menggunakan palu. Jika di rasa kurang ringan tinggal bubut saja mangkoknya, ingat berat mangkok tidak boleh kurang dari 200gram.
Jika anda mempunyai pertimbangan jika takut menggunakan magnet standart yang harga barunya mahal, anda bisa menggunakan lempengan besi yang tipis dan ringan. Kita bisa menggantinya dengan ukuran megnet aslinya biar gampang, sehingga tidak perlu merubah pick fulser dan tetap bisa memakai CDI DC yang bawaan motor.
Untuk ukuran tinggi tonjolannya sebesar 1,2 sampai 2 mm. Sedang panjang tonjolan bisa mengikuti bentuk aslinya. Tetapi jika untuk Honda Kharisma dan Supra X 125 panjang pick up pulsernya berubah menjadi 38mm dan tergantung CDI yang akan kita gunakan.
Untuk motor pabrikan Yamaha seperti Vega R, F1Z-R, Jupiter, Nouvo, Mio, Jupiter MX 135 dan New Mio ukuran pick up pulser sama. Yaitu 57, 55 mm. Ukuran berbeda khusus untuk Yamaha Xeon, yaitu 47,8 mm.
Untuk pabrikan Suzuki memiliki ukuran panjang pick up pulser beda-beda. Contoh pada motor Shogun 125 ukuran panjangnya 30 mm. dan Satria F-150 yaitu 39 mm.
Yang tidak boleh dilupakan adalah posisi pick up pulser harus sesuai dengan yang aslinya, sehingga timing pengapiannya tidak berubah dengan magnet standarnya dahulu. Dalam pemasangan lempengan pengganti magnet, para mekanik masih menggunakan dudukan aslinya hanya dengan melepas paku kelingnya saja.
Lalu dudukan magnet yang ada alur buat spi magnet itu disatukan dengan lempengan besi yang kita buat. Dan di bor lalu dikuatkan dengan paku keling. Hal yang tidak boleh lupa adalah balancing biar tidak goyang dan getar.
Yang perlu diwaspadai adalah total loss bisa mengurangi torsi, karena beban yang terlalu ringan. Bahkan untuk putaran atas bisa hilang torsinya. Apalagi kalau joki terlalu berat malah tidak akan terasa torsinya. Oleh karena itu lempengan besi pengganti magnet tidak boleh kurang dari 200 gram. Hal yang sakral tidak boleh salah pasang posisi pulser, jarak toleransi tonjolan pick up sensor yaitu 0,7 mm.

